Suaka

Seorang laki-laki berdiri dekat patung Suro dan Boyo. Tampak ia bukan laki-laki dekil, malah klimis. Dan mungkin karena alasan keamanan, ia menggunakan safety helmet sebagai ciri pekerja di area pembangunan. Kedua tangannya membentangkan kertas yang berisi cetak biru sebuah gedung. Bergantian, sekali-dua, mata laki-laki itu meneliti gambar cetak biru kemudian memandang bagian muka Kebun Binatang Surabaya. Lalu ia mengangguk-anggukkan kepala dan menggulung kertas berisi cetak biru itu.

Seketika, dengan tanda sekali anggukan tertegas dari laki-laki itu, suara deru berat mesin-mesin penghancur mulai terdengar. Tanah sedikit bergetar. Mesin-mesin itu merangsek maju. Tembok pembatas KBS terkena hantaman pertama dan langsung ambruk. Korban berikutnya adalah pepohonan. Krak-krak krak-krak batang pohon terbelah. Perlahan batang pohon semakin miring, meninggalkan akar yang tetap tertancap di tanah. Daun dan rantingnya yang tinggal tetap pada batang, perlahan rebah ke tanah dan sempat membuat udara bergerak menjadi angin. Baru ambruklah pohon itu. Tidak hanya satu melainkan satu-satu sampai habis semua.

Di sepanjang jalan kecil yang bernama Setail, semua penghuni KBS mulai dari yang sebesar gajah hingga yang sekecil ikan-ikan berjejer dalam kandang masing-masing. Tak beralih dan berhenti mereka pandangi hancurnya rumah yang selama sekian tahun telah dihuni. Air dalam akuarium sampai luber, karena terus bertambah oleh air mata ikan-ikan yang ada di dalamnya. Macan putih tergarang, gajah terberat, atau orang utan terjahil pun menangis. Biar tidak nyaman, KBS itu sebuah suaka untuk mereka. Sekarang, kalau sudah tak ada, di mana suaka mereka yang baru?

Pernahkah sebelumnya ada orang yang membayangkan gedung apa yang akan dibangun oleh laki-laki itu? Mungkin mall, mungkin apartemen, atau gedung perkantoran. Kebun Binatang Surabaya yang sudah menuai banyak kontroversi karena minim perawatan itu akhirnya harus ditutup. Lahannya dibeli pengusaha. Disulap menjadi bagian dari gemerlap kota modern.

Entah sayangnya atau justru sebaliknya, Kebun Binatang Surabaya masih belum berubah sedikit pun. Tidak dengan keadaannya, tidak juga dengan perawatannya.

Kebun Binatang Surabaya? Ya, masih banyak pepohonan di sana yang jadi penyeimbang gas karbon dari mesin mobil angkutan umum di Terminal Joyoboyo, tetangganya. Ya, masih ramai dikunjungi masyarakat Surabaya bila akhir minggu atau liburan tiba. Ya, masih jadi sumber nafkah bagi para pekerja di sana. Ya, masih juga ada hewan-hewan yang tidak terurus bahkan mati di sana sehingga menuai protes dari para aktivis dan media massa internasional. Ya, yang terakhir mati adalah Kliwon, jerapah satu-satunya. Ya, ada juga bison tua yang sedang menunggu ajal.

Masih begitu saja KBS. Bila keadaan ini bertahan terus, hewan-hewan di sana akan terus jadi korban. Namun bila ditutup, Surabaya akan kehilangan area hijau terluas di tengah kota. Anak-anak di Surabaya pun tidak lagi memiliki area rekreasi yang mudah dijangkau.

Dibuang sayang sekaligus mati segan, hidup pun tak hendak. Banyak sisi KBS yang indah dan menyejukkan mata yang telah lelah melihat kota. Namun apa keindahan itu harus terus dibayar dengan nyawa hewan-hewan di sana? Mungkin saat ini, KBS membutuhkan keajaiban agar dapat melakukan restrukturisasi secara menyeluruh, demi kepentingan umum.